Rabu, 06 November 2013

Wacana singkat dengan memperhatikan Aspek EYD

TOPIK                            : PERAN GURU DALAM PENINGKATAN KEMAMPUAN AKADEMIK SISWA
NARASUMBER (N)     : KEPALA DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN BANTUL
PEWAWANCARA (W) : NINANINGTYAS, WARTAWAN KORAN

W: Selamat pagi Pak..terima kasih atas waktu yang diberikan
W: Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional, koran kami akan memuat artikel tentang peran guru dalam peningkatan kemampuan akademik siswa. Bisa bapak menceritakan perkembangan terkini mengenai peran guru saat ini?
N: Seiring dengan perkembangan jaman, peran guru sudah sangat berbeda dengan peran guru pada jaman dahulu. Guru tidak hanya berperan dan bertugas mengajar, mentransfer ilmu kepada siswa saja, namun juga bertugas membangun karakter dari siswa.
W: Sejauh ini apa saja program pemerintah yang berkaitan dengan tugas guru yang semakin kompleks tersebut?
N: Program pemerintah dalam bentuk pelatihan serta yang terkini mengenail akreditasi kemampuan guru serta syarat minimal jenjang pendidikan yang diterapkan merupakan salah satu contoh program pemerintah dalam memajukan dunia pendidikan.
W: Bagaimana dengan kesiapan para guru menghadapi tuntutan tersebut?
N: Banyak yang sudah siap, namun tidak sedikit juga yang terkaget - kaget dengan perubahan - perubahan tersebut. Terutama bagi guru - guru yang sudah mendekati usia pensiun
W: Apakah dampak positif dari program - program tersebut sudah bisa dirasakan atau minimal terlihat?
N: Secara nasional bisa dilihat dari hasil nilai Ujian Nasional yang grafiknya cenderung naik
W: Apakah ada kenaikan pendapatan guru seiring dengan bertambahnya beban kerja?
N: Tentu saja ada, pemerintah juga dengan secara khusus memberikan tunjangan akreditasi guru yang diberikan secara berkala. Diharapkan dengan adanya kenaikan penghasilan bisa memacu guru untuk bisa bekerja lebih efektif dan profesional.
W: Saya pikir cukup pak. Nanti bisa saya kembangkan lagi menjadi headline koran kami saat peringatan hari Guru. Terima kasih atas waktu dan informasinya.
N: sama - sama

Puisi Masa Depan

mentari telah datang..
kicau kicau burung menyambutnya..
dengan segenggam semangat..
ku langkahkan kaki..

ku melangkah lurus kedepan..
fokus pada 1 jalan..
fokus pada 1 tujuan..
demi masa depan yang cerah..

dengan sekeranjang ilmu..
segenggam semangat..
secangkir doa dan tekat yang keras..
ku yakin mampu menggapai masa depan yang cerah..

Selasa, 24 April 2012

Manusia dan Cinta Kasih

Arti kata cinta menurut bahasa adalah rasa sangat suka/sayang/sangat kasih/sangat tertarik hatinya. Dan arti kata kasih adalah perasaan sayang atau cinta atau menaruh belas kasihan. Di lihat dari artinya kata cinta dan kasih memiliki persamaan yaitu sebuah perasaan tetapi terdapat juga perbedaan yaitu cinta lebih mengandung rasa yang mendalam sedangkan kasih lebih ke keluarnya atau pembuktiannya.

Ada berbagai macam cinta kasih dalam kehidupan manusia diantarannya Cinta kasih kepada Tuhan, orang tua, manusia ,serta lingkungan sekitar.

Beberapa pendapat mengatakan bahwa cinta mudah dipahami,dan bila dikaitkan dengan agama akan menjadi sedikit kompleks.dalam kenyataan manusia pasti menginginkan cinta dalam kehidupan ini tapi dalam perakteknya masih banyak pertengkaran dan perpecahan disana-sini antar umat manusia.

Cinta terhadap diri sendiri juga merupakan suatu bentuk ungkapan cinta kasih, aplikasinya yaitu menjauhi diri dari perbuatan perbuatan tercela, bersikap sopan santun serta menghargai orang lain termasuk bukti kecintaan terhadap diri karena pandangan positif dari orang lain/orang sekitar menjauhkan diri dari rasa stress yang dapat terjadi pada diri manusia.

Ada berbgai cara untuk mengekspresikan atau menungkapkan sikap cinta kasih antara lain lewat sikap dan tingkah laku manusia ,dengan ungkapan kata-kata ataupun tulisan (missal: puisi) maupun yang lainnya.

Sedangkan untuk mengungkapkan rasa cinta kasih terhadap Tuhan yaitu melalui ketaatan (menjalankan perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya).

Dan yang terakhir, setiap manusia pasti menginginkan kebahagian dan kedamaian, itu semua bias didapatkan melalui cinta kasih yang manusia rasakan.

(suryacool-life.blogspot.com)Arti kata cinta menurut bahasa adalah rasa sangat suka/sayang/sangat kasih/sangat tertarik hatinya. Dan arti kata kasih adalah perasaan sayang atau cinta atau menaruh belas kasihan. Di lihat dari artinya kata cinta dan kasih memiliki persamaan yaitu sebuah perasaan tetapi terdapat juga perbedaan yaitu cinta lebih mengandung rasa yang mendalam sedangkan kasih lebih ke keluarnya atau pembuktiannya.

Ada berbagai macam cinta kasih dalam kehidupan manusia diantarannya Cinta kasih kepada Tuhan, orang tua, manusia ,serta lingkungan sekitar.

Beberapa pendapat mengatakan bahwa cinta mudah dipahami,dan bila dikaitkan dengan agama akan menjadi sedikit kompleks.dalam kenyataan manusia pasti menginginkan cinta dalam kehidupan ini tapi dalam perakteknya masih banyak pertengkaran dan perpecahan disana-sini antar umat manusia.

Cinta terhadap diri sendiri juga merupakan suatu bentuk ungkapan cinta kasih, aplikasinya yaitu menjauhi diri dari perbuatan perbuatan tercela, bersikap sopan santun serta menghargai orang lain termasuk bukti kecintaan terhadap diri karena pandangan positif dari orang lain/orang sekitar menjauhkan diri dari rasa stress yang dapat terjadi pada diri manusia.

Ada berbgai cara untuk mengekspresikan atau menungkapkan sikap cinta kasih antara lain lewat sikap dan tingkah laku manusia ,dengan ungkapan kata-kata ataupun tulisan (missal: puisi) maupun yang lainnya.

Sedangkan untuk mengungkapkan rasa cinta kasih terhadap Tuhan yaitu melalui ketaatan (menjalankan perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya).

Dan yang terakhir, setiap manusia pasti menginginkan kebahagian dan kedamaian, itu semua bias didapatkan melalui cinta kasih yang manusia rasakan.

Manusia dan Keindahan


Berasal dari kata indah yang artinya adalah bagus, cantik, elok, molek, permai, dan sebagainya.Keindahan merupakan suatu konsep abstrak yang tidak dinikmati karena tidak jelas.Keindahan identik dengan kebenaran, keduanya memiliki citra yang sama yaitu abadi dan mempunyai daya tarik selalu bertambah. Keindahan bersifat universal tidak terikat dengan perseorangan, waktu, dan tempat, selera, mode , kedaerahan atau lokal.

Manusia setiap waktu memperindah diri, pakaian, rumah, kendaraan dan sebagainya agar segalanya tampak mempesona dan menyenangkan bagi yang melihatnya. Semua ini menunjukkan betapa manusia sangat gandrung dan mencintai keindahan. Seolah-olah keindahan termasuk konsumsi vital bagi indera manusia. Tampaknya kerelaan orang mengeluarkan dana yang relatif banyak untuk keindahan dan menguras tenaga serta harta untuk menikmatinya, seperti bertamasya ke tempat yang jauh bahkan berbahaya, hal ini semakin mengesankan betapa besar fungsi dan arti keindahan bagi seseorang. Agaknya semakin tinggi pengetahuan, kian besar perhatian dan minat untuk menghargai keindahan dan juga semakin selektif untuk menilai dan apa yang harus dikeluarkan untuk menghargainya, dan ini merupakan kebanggaan tersendiri bagi orang yang dapat menghayati keindahan. 

Keindahan
Keindahan adalah susunan kualitas atau pokok tertentu yang terdapat pada suatu hal kulitas yang paling disebut adalah kesatuan (unity) keselarasan (harmony) kesetangkupan (symmetry) keseimbangan (balance) dan pertentangan (contrast).
Menurut luasnya pengertian keindahan dibedakan menjadi 3, yaitu :
     1. Keindahan dalam arti luas menurut para ahli, yaitu :
  • Menurut The Liang Gie keindahan adalah ide kebaikan
  • Menurut Pluto watak yang indah dan hukum yang indah
  • Menurut Aristoteles keindahan sebagai sesuatu yang baik dan juga menyenangkan
     2. Keindahan dalam arti estetik murni, yaitu pengalaman estetik seseorang dalam
         hubungan dengan segala sesuatu yang diserapnya.
     3. Keindahan dalam arti terbatas, yaitu yang menyangkut benda-benda yang dapat
         diserap dengan penglihatan yakni berupa keindahan bentuk dan warna

Manusia dan Penderitaan


Penderitaan termasuk realitas dunia dan manusia. Intensitas penderitaan manusia bertingkat-tingkat, ada yang berat dan ada juga yang ringan. Namun, peranan individu juga menentukan berat-tidaknya Intensitas penderitaan. Suatu perristiwa yang dianggap penderitaan oleh seseorang, belum tentu merupakan penderitaan bagi orang lain. Dapat pula suatu penderitaan merupakan energi untuk bangkit bagi seseorang, atau sebagai langkah awal untuk mencapai kenikmatan dan kebahagiaan.
Akibat penderitaan yang bermacam-macam. Ada yang mendapat hikmah besar dari suatu penderitaan, ada pula yang menyebabkan kegelapan dalam hidupnya. Oleh karena itu, penderitaan belum tentu tidak bermanfaat. Penderitaan juga dapat ‘menular’ dari seseorang kepada orang lain, apalagi kalau yang ditulari itu masih sanak saudara.
Mengenai penderitaan yang dapat memberikan hikmah, contoh yang gamblang dapat dapat dicatat disini adalah tokoh-tokoh filsafat eksistensialisme. Misalnya Kierkegaard (1813-1855), seorang filsuf Denmark, sebelum menjadi seorang filsuf besar, masa kecilnya penuh penderitaan. Penderitaan yang menimpanya, selain melankoli karena ayahnya yang pernah mengutuk Tuhan dan berbuat dosa melakukan hubungan badan sebelum menikah dengan ibunya, juga kematian delapan orang anggota keluarganya, termaksud ibunya, selama dua tahun berturut-turut. Peristiwa ini menimbulkan penderitaan yang mendalam bagi Soren Kierkegaard, dan ia menafsirkan peristiwa ini sebagai kutukan Tuhan akibat perbuatan ayahnya. Keadaan demikian, sebelum Kierkegaard muncul sebagai filsuf, menyebabkan dia mencari jalan membebaskan diri (kompensasi) dari cengkraman derita dengan jalan mabuk-mabukan. Karena derita yang tak kunjung padam, Kierkegaard mencoba mencari “hubungan” dengan Tuhannya, bersamaan dengan keterbukaan hati ayahnya dari melankoli. Akhirnya ia menemukan dirinya sebagai seorang filsuf eksistensial yang besar.
Penderitaan Nietzsche (1844-1900), seorang filsuf Prusia, dimulai sejak kecil, yaitu sering sakit, lemah, serta kematian ayahnya ketika ia masih kecil. Keadaan ini menyebabkan ia suka menyendiri, membaca dan merenung diantara kesunyian sehingga ia menjadi filsuf besar.
Lain lagi dengan filsuf Rusia yang bernama Berdijev (1874-1948). Sebelum dia menjadi filsuf, ibunya sakit-sakitan. Ia menjadi filsuf juga akibat menyaksikan masyarakatnya yang sangat menderita dan mengalami ketidakadilan.
Sama halnya dengan filsuf Sartre (1905-1980) yang lahir di Paris, Perancis. Sejak kecil fisiknya lemah, sensitif, sehingga dia menjadi cemoohan teman-teman sekolahnya. Penderitaanlah yang menyebabkan ia belajar keras sehingga menjadi filsuf yang besar.
Masih banyak contoh lainnya yang menunjukkan bahwa penderitaan tidak selamanya berpengaruh negatif dan merugikan, tetapi dapat merupakan energi pendorong untuk menciptakan manusia-manusia besar.
Contoh lain ialah penderitaan yang menimpa pemimpin besar umat Islam, yang terjadi pada diri Nabi Muhammad. Ayahnya wafat sejak Muhammad dua bulan di dalam kandungan ibunya. Kemudian, pada usia 6 tahun, ibunya wafat. Dari peristiwa ini dapat dibayangkan penderitaan yang menimpa Muhammad, sekaligus menjadi saksi sejarah sebelum ia menjadi pemimpin yang paling berhasil memimpin umatnya (versi Michael Hart dalam Seratus Tokoh Besar Dunia).

Penderitaan dan Kenikmatan
Tujuan manusia yang paling populer adalah kenikmatan, sedangkan penderitaan adalah sesuatu yang selalu dihindari oleh manusia. Oleh karena itu, penderitaan harus dibedakan dengan kenikmatan, dan penderitaan itu sendiri sifatnya ada yang lama dan ada yang sementara. Hal ini berhubungan dengan penyebabnya. Macam-macam penderitaan menurut penyebabnya, antara lain: penderitaan karena alasan fisik, seperti bencana alam, penyakit dan kematian; penderitaan karena alasan moral, seperti kekecewaan dalam hidup, matinya seorang sahabat, kebencian orang lain, dan seterusnya.Semua ini menyangkut kehidupan duniawi dan tidak mungkin disingkirkan dari dunia dan dari kehidupan manusia.
Penderitaan dan kenikmatan muncul karena alasan “saya suka itu” atau “sesuatu itu menyakitkan”. Kenikmatan dirasakan apabila yang dirasakan sudah didapat, dan penderitaan dirasakan apabila sesuatu yang menyakitkan menimpa dirinya. Aliran yang ingin secara mutlak menghindari penderitaan adalah hedonisme, yaitu suatu pandangan bahwa kenikmatan itu merupakan tujuan satu-satunya dari kegiatan manusia, dan kunci menuju hidup baik. Penafsiran hedonisme ada dua macam, yaitu:
     1. Hedonisme psikologis yang berpandangan bahwa semua tindakan diarahkan
         untuk mencapai kenikmatan dan menghindari penderitaan.
     2. Hedonisme etis yang berpandangan bahwa semua tindakan ‘harus’ ditujukan
         kepada kenikmatan dan menghindari penderitaan.

Kritik terhadap hedonisme ialah bahwa tidak semua tindakan manusia hedonistis, bahkan banyak orang yang tampaknya merasa bersalah atas kenikmatan-kenikmatan mereka. Dan hal ini menyebabkan mereka mengalami penderitaan. Pandangan Hedonis psikologis ialah bahwa semua manusia dimotivasi oleh pengejaran kenikmatan dan penghindaran penderitaan. Mengejar kenikmatan sebenarnya tidak jelas, sebab ada kalanya orang menderita dalam rangka latihan-latihan atau menyertai apa yang ingin dicapai atau dikejarnya. Kritik Aristoteles ialah bahwa puncak etika bukan pada kenikmatan, melainkan pada kebahagiaan. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa kenikmatan bukan tujuan akhir, melainkan hanya “pelengkap” tindakan. Berbeda dengan John Stuart Mill yang membela Hedonisme melalui jalan terhormat, utilitarisme yaitu membela kenikmatan sebagai kebaikan tertinggi. Suatu tindakan itu baik sejauh ia lebih “berguna” dalam pengertian ini, yaitu sejauh tindakan memaksimalkan kenikmatan dan meninimalkan penderitaan.
Penderitaan dan Kasihan
Kembali kepada masalah penderitaan, muncul Nietzsche yang memberontak terhadap pernyataan yang berbunyi: “Dalam menghadapi penderitaan itu, manusia merasa kasihan”. Menurut Nietzche, pernyataan ini tidak benar, penderiutaan itu adalah suatu kekurangan vitalitas. Selanjutnya ia berkata, “sesuatu yang vital dan kuat tidak menderita, oleh karenanya ia dapat hidup terus dan ikut mengembangkan kehidupan semesta alam. Orang kasihan adalah yang hilang vitaliatasnya, rapuh, busuk dan runtuh. Kasihan itu merugikan perkembangan hidup”. Sehingga dikatakannya bahwa kasihan adalah pengultusan penderitaan. Pernyataan Nietzsche ini ada kaitannya dengan latar belakang kehidupannya yang penuh penderitaan. Ia mencoba memberontak terhadap penderitaan sebagai realitas dunia, ia tidak menerima kenyataan. Seolah-olah ia berkata, penderitaan jangan masuk ke dalam hidup dunia. Oleh karena itu, kasihan yang tertuju kepada manusia harus ditolak, katanya.
Pandangan Nietzsche tidak dapat disetujui karena: pertama, di mana letak humanisnya dan aliran existensialisme. Kedua, bahwa penderitaan itu ada dalam hidup manusia dan dapat diatasi dengan sikap kasihan. Ketiga, tidak mungkin orang yang membantu penderita, menyingkir dan senang bila melihat orang yang menderita. Bila demikian, maka itu yang disebut sikap sadisme. Sikap yang wajar adalah menaruh kasihan terhadap sesama manusia dengan menolak penderitaan, yakni dengan berusaha sekuat tenaga untuk meringankan penderitaan, dan bila mungkin menghilangkannya

Penderitaan dan Noda Dosa pada Hati Manusia
Penderitaan juga dapat timbul akibat noda dosa pada hati manusia (Al-Ghazali, abad ke 11). Menurut Al-Ghazali dalam kitabnya Ihyaa’ Ulumudin, orang yang suka iri hati, hasad, dengki akan menderita hukuman lahir-batin, akan merasa tidak puas dan tidak kenal berterima kasih. Padahal dunia tidak berkekurangan untuk orang-orang di segala zaman. Allah SWT telah memberi ilmu dan kekayaan atau kekuasaan-Nya, karena itu penderitaan-penderitaan lahir ataupun batin akan selalu menimpa orang-orang yang mempunyai sifat iri hati, hasad, dengki selama hidupnya sampai akhir kelak.
Untuk mengobati hati yang menderita ini, sebelumnya perlu diketahui tanda- tanda hati yang sedang gelisah (hati yang sakit). Perlu diketahui bahwa setiap anggota badan diciptakan untuk melakukan suatu pekerjaan. Apabila hati sakit maka ia tidak dapat melakukan pekerjaan dengan sempurna ia kacau dan gelisah. Ciri hati yang tidak dapat melakukan pekerjaan ialah apabila ia tidak dapat berilmu, berhikmah, bermakrifat, mencintai Allah dengan menyembah-Nya, merasa erat dan nikmat mengingat-Nya.
Sehubungan dengan pernyataan ciri-ciri yang menderita, Allah berfirman:
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia selain hanya untuk menyembah kepada-Ku”. (QS. 51: 56)
“Barangsiapa merasa mengerti sesuatu, tetapi tidak mengenal Allah, sesungguhnya orang tersebut tidak mengerti apa-apa. Barangsiapa mempunyai sesuatu yang dicintainya lebih daripada mencintai Allah, maka sesungguhnya hatinya sakit. “katakanlah, hai Muhammad, apabila orang tuamu, anakmu, saudaramu, istrimu, handai tolanmu, harta bendamu yang engkau tumpuk dalam simpanan serta barang dagangan yang yang engkau khawatirkan ruginya dan rumah tempat tinggal yang kamu senangi itu lebih kamu cinta daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjuang di jalan Allah, maka tunggulah sampai perintah Allah datang”. (QS. 9: 24).
Hal lain yang menimbulkan derita terhadap seseorang adalah merasakan suatu keinginan atau dorongan yang tidak dapat diterima atau menimbulkan keresahan, gelisah, atau derita. Maka ia pun berusaha menjauhkan diri dari lingkup kesadaran atau perasaannya. Akhirnya, keinginan atau dorongan itu tertahan dalam alam bawah sadar. Namun, sering orang itu mengekspresikan keinginan atau dorongan itu secara tidak sadar atau dengan ucapan yang keliru. Atau, apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahwa Allah tidak akan menampakkan kedengkian mereka?
“Dan kalau Kami mengkhendaki, niscaya Kami tunjukkan mereka kepadamu, sehingga kamu dapat benar-benar mengenal mereka dengan tanda-tandanya, tetapi kamu mengenal mereka dari bicara mereka, dan Allah mengetahui perbuatan-perbuatan kamu”. (QS. 47: 29-30).
Demikianlah Al-Quran telah mengisyaratkan tentang adanya ciri-ciri orang yang tidak sadar (menderita) lewat kata-kata yang keliru, sejak 14 abat yang lalu sebelum dikemukakan oleh Freud, penemu teori psikoanalisis. Bahkan sebuah hadist mengatakan:
“Tak seorang pun yang menyembunyikan suatu rahasia kecuali jika Allah akan memberinya penutup. Apabila penutup itu baik, maka rahasia itu baik, dan apabila penutup itu buruk maka buruk pula rahasia itu”. (Tafsir Ibn Katsir, Vol. 4 hal. 180).
Obat supaya hati sehat di firmankan Allah sebagai berikut:
“Kecuali orang yang datang ke hadirat Allah SWT dengan hati yang suci”. (QS. 26: 89 ).
Jadi, mengenal atau makrifat kepada Allah yang membawa semangat taat kepada Allah SWT dengan cara menentang hawa nafsu, merupakan obat untuk menyembuhkan penyakit dalam hati (menderita gelisah) (Al-Ghazali, abad ke-11).

Manusia dan Keadilan


Banyak ayat Al-Qur’an dan hadits yang mengajak supaya selalu menjaga keadilan. Adil berarti tidak berat sebelah. Dengan kata lain, adil adalah memperlakukan atau menimbang sesuatu dengan cara yang sama, tidak berat sebelah, dan tidak saling merugikan.
Mengapa kita harus berlaku adil? Karena, dengan sikap dan tindakan yang adil berarti kita telah membuat orang lain beruntung dan tidak merasa dizalimi. Sebaliknya, jika kita berlaku tidak adil, maka kita dianggap telah merugikan dan menzalimi.
Adil termasuk dalam ruang lingkup akhlak yang baik. Islam sendiri sudah memperjuangkan keadilan dengan baik, yaitu dengan memberikan hak kepada yang berhak tanpa mengurangi sedikit pun.
Banyak manusia yang berusaha memperjuangkan keadilan meski nyawa menjadi taruhannya. Adil adalah bersumber dari sifat Allah Al-’Adl. Ketika manusia berada di alam ruh manusia telah berjanji untuk menjalankan sifat-sifatNya. Karena itulah Al-’Adl akan senantiasa dicari manusia sampai kapan pun dan di mana pun. Karena dia adalah suara hati manusia yang telah ada bahkan sebelum manusia dilahirkan ke muka bumi.
Dalam buku yang disajikan dengan menarik ini, kalian akan lebih banyak tahu tentang nilai-nilai adil, yang akan membawa kalian menjadi anak yang dicintai makhluk di dunia ini. Buku ini diadaptasi dari buku Bangkit dengan 7 Budi Utama ESQ. Sangat cocok untuk bacaan anak-anak dan alumni training ESQ for Kids terutama untuk mengenalkan mereka akan nilai adil.
Mudah-mudahan buku ini dapat memberikan intisari dari hikmah nilai adil itu, sehingga kalian dapat menjadi anak yang adil. Selamat membaca! (Baihaqi Nu’man)

Manusia dan Pandangan Hidup


Setiap manusia mempunyai pandangan hidup. Pandangan hidup itu bersifat kodrati. Karena itu is menentukan masa depan seseorang. Untuk itu perlu dijelaskan pula apa anti pandangan hidup. Pandangan hidup artinya pendapat atau pertimbangan yang dijadikan pegangan, pedoman, arahan, petunjuk hidup di dunia. Pendapat atau pertimbangan itu merupakan hasil pemikiran manusia berdasaikan pengalaman sejarah menurut waktu dan tempat hidupnya.
Pandangan hidup banyak sekali macamnya dan ragamnya. Akan tetapi pandangan hidup dapat diklasifikasikan berdasaikan asalnya yaitu terdiri dari 3 macam :
  1. Pandangan hidup yang berasal dari agama yaitu pandangan hidup yang mutlak kebenarannya
  2. Pandangan hidup yang berupa ideologi yang disesuaikan dengan kebudayaan dan norms yang terdapat pada negara tersebut.
  3. Pandangan hidup hasil renungan yaitu pandangan hidup yang relatif kebenarannya.


Cita-cita 
Menurut kamus umum Bahasa Indonesia, yang disebut cita-cita adalah keinginan, harapan, tujuan yang selalu ada dalam pikiran. Baik keinginan, harapan, maupun tujuan merupakan apa yang mau diperoleh seseorang pada masa mendatang.
Apabila cita-cita itu tidak mungkin atau belum mungkin terpenuhi, maka cita-cita itu disebut angan-angan. Antara masa sekarang yang merupakan realita dengan masa yang akan datang sebagai ide atau cita-cita terdapat jarak waktu. Dapatkah seseorang mencapai apa yang dicita-citakan, hal itu bergantung dari tiga faktor:
  • Faktor manusia
  • Faktor kondisi
  • Faktor tingginya cita-cita


Kebijakan
Kebajikan atau kebaikan atau perbuatan yang mendatangkan kebaikan pada hakekatnya sama dengan perbuatan moral, perbuatan yang sesuai dengan nonna-norrna agama dan etika. Manusia berbuat baik, karena menurut kodratnya manusia itu baik, mahluk bermoral. Atas dorongan suara hatinya manusia cenderung berbuat baik. Manusia adalah seorang pribadi yang utuh yang terdiri atas jiwa dan badan.
Manusia merupakan mahluk sosial: manusia hidup bermasyarakat, manusia saling membutuhkan, saling menolong, saling menghargai sesama anggota masyarakat. Sebaliknya pula saling mencurigai, saling membenci, saling merugikan, dan sebagainya.
Sebagai mahluk pribadi, manusia dapat menentukan sendiri apa yang baik dan apa yang buruk. Baik buruk itu ditentukan oleh suara hati. Suara hati adalah semacam bisikan di dalam hati yang mendesak seseorang, untuk menimbang dan menentukan baik buruknya suatu perbuatan, tindakan atau tingkah laku.
Faktor-faktor yang menentukan tingkah laku setiap orang ada tiga hal:
  1. Faktor pembawaan (heriditas) yang telah ditentukan pada waktu seseorang masih dalam kandungan.
  2. Faktor yang menentukan tingkah laku seseorang adalah lingkungan (environ¬ment).
  3. Faktor yang menentukan tingkah laku seseorang adalah pengalaman yang khas yang pemah diperoleh.


Usaha
Usaha/perjuangan adalah kerja keras untuk mewujudkan cita-cita. Setiap manusia hams kerja keras untuk kelanjutan hidupnya. Sebagian hidup manusia adalah usaha/perjuangan. Perjuangan untuk hidup, dan ini sudah kodrat manusia. Tanpa usaha/perjuangan, manusia tidak dapat hidup sempuma. Apabila manusia bercita-cita menjadi kaya, ia hams kerja keras. Apabila seseorang bercita-cita menjadi ilmuwan, ia hams rajin belajar dan tekun serta memenuh semua ketentuan akademik.
Kerja keras itu dapat dilakukan dengan otak/ilmu maupun dengan tenaga/jasmani, atau dengan kedua-duanya.
Untuk bekerja keras manusia dibatasi oleh kemampuan. Karena kemampuan terbatas itulah timbul perbedaan tingkat kemakmuran antara manusia satu dan manusia lainnya. Kemampuan itu terbatas pada fisik dan keahlian/ketrampilan.

Keyakinan 
Keyakinan/kepercayaan yang menjadi dasar pandangan hidup berasal dari akal atau kekuaasaan Tuhan. Menurut Prof. Dr.Harun Nasution, ada tiga aliran filsafat, yaitu aliran naturalisme, aliran intelektualisme, dan aliran gabungan.
  • Aliran Naturalisme
          Hidup manusia itu dihubungkan dengan kekuatan gaib yang merupakan
          kekuatan tertinggi. Kekuatan gaib itu dari natur, dan itu dari Tuhan.
  • Aliran intelektualisme
          Dasar aliran ini adalah logika / akal. Manusia mengutamakan akal. Dengan akal
          manusia berpikir.
  • Aliran Gabungan
          Dasar aliran ini ialah kekuatan gaib dan juga akal. kekuatan gaib Minya
          kekuatan yang berasal dari Tuhan, percaya adanya Tuhan sebagai dasar
          keyakinan.